Minggu, 02 Januari 2011

Kita 'kan Bertemu Lagi

-Violet’s POV-

Akhirnya aku menemukan Lavender di dekat danau, seperti yang kuduga sebelumya. Danau ini adalah satu dari beberapa tempat kesukaanya untuk menyendiri. Inilah satu dari beberapa hal yang tak bisa kupahami darinya; apa asyiknya menyendiri di tempat seperti ini? Apalagi ada legenda setempat yang mengatakan bahwa danau ini ada penjaganya, bukannya dia lumayan takut hantu? Nonton film horor saja malah ditinggal tidur...

“Lavender! Akhirnya aku menemu- “ , Aku mengehentikan lajuku. Aku melihat Lavender berjalan kearahku dengan raut wajah yang cemas sambil membawa Luxury Ball di tangannya.

“Lavender? A-ada apa? Je-jelaskan padaku!”

“Vi, ini....”

[........]

Lavender menjelaskan padaku semuanya, asal-usul kenapa bisa ada Ralts di dalam Luxury Ball-nya.

“Sebentar; jadi kau lari kesini bukan karena ngambek, tapi karena ada bisikan? Bisikan macam apa? Apa kau ke-“, Aku memilih untuk tidak meneruskan kaliamtku. Lavender sudah ketakutan seperti ini, kalau kutambah dengan dugaanku yang gila tadi, entah apa yang akan terjadi.

“Ba-baiklah, tenangkan dulu dirimu, Lav*. Aku yakin, pasti kau tak akan dihukum, pasti Nona Joy bisa memaklumi alasanmu. Apalagi, kau melakukannya bukan untuk kepentinganmu, dan juga, kau kan genap 10 tahun beberapa minggu lagi?” Aku berusaha menenangkan dan membujuk Lavender untuk kembali ke Pokemon Center.

-Lavender’s POV-

Aku hanya menurut saja saat Vi membawaku kembali ke Pokemon Center. OK, raut wajahnya seolah berkata “OMG, bisikan batin? Hal macam apa itu?” Hah, sudahlah, alasanku agak non-sense, tapi aku jujur! Saat aku keluar untuk menenangkan diri, aku seperti mendapat bisikan untuk pergi ke tempat dimana akhirnya aku bertemu Ralts ini. Apa kalian mau mempercayaiku?

Sebetulnya, aku tahu kalau aku selalu dianggap istimewa, bagaimana tidak? Aku satu-satunya pewaris perusahaan orang tuaku yang diwariskan dari kakekku. Saudara-saudara papaku semuanya lepas tangan dan pergi mengelana di region lain, sedangkan papa sebagai anak bungsu tak bisa menentang keputusan kakaknya dan akhirnya harus beristirahat dari pengembaraannya sebagai pelatih Pokemon, sedangkan mama anak tunggal. Papa berhasil memajukan perusahaan keluarga dan sukses, tapi jiwa pelatih Pokemonnya tak pernah padam. Saat aku memberitahu rencana kelasku ini, mama memotivasiku untuk menjadi Champion Sinnoh, sedangkan papa hanya bilang “lakukan saja sesuai permintaan mamamu, kau tak akan menyesal”

Akhirnya kami tiba di Pokemon Center, lalu aku menjelaskan alasanku, tapi tanpa bagian bisikan batin itu. Aku tidak mau dianggap aneh, tanpa hal-hal seperti itu saja aku sudah dianggap aneh karena ketertarikanku pada hal yang dianggap membosankan bagi banyak orang.

Sekarang kembali ke masalah awal; apa yang harus kulakukan pada Ralts ini? Aku tak mau melepaskannya, aku khawatir kalau dia diserang lagi. Lagipula, bukannya Ralts jarang menampakkan diri di sekitar sini kan? Ah, aku tahu! Aku titipkan Ralts ini disini, kemudian kalau aku sudah merayakan ulang tahunku yang kesepuluh, aku akan datang dan mengambilnya. Ulang tahunku kan 2 pekan lagi!

“Jadi, bagaimana? Pokemon apa yang kau dapatkan sebagai partner pertamamu?” tanya papa saat makan malam.

“Euh, walaupun ulang tahunku sebentar lagi, tapi aku tetap belum diizinkan punya Pokemon. Aku akan mengambilnya tepat setelah pesta ulang tahunku.” Aku menjawab sambil memakan makan malamku. Lalu aku menceritakan semua hal yang terjadi hari ini, setelah aku menceritakan tentang kata hatiku, suasana hening. Tak ada yang berbicara lagi. Semua menghabiskan makan malamnya tanpa berbicara sedikitpun.

“Ya, tapi setidaknya, kau bisa memperlakukan Eevee sebagai Pokemonmu kan, sayang, sampai hari itu?” mama mencoba memecah keheningan. Aku memandang ke arah Eevee yang berjalan di tangga (?). Ah, aku tidak sabar lagi.....

We’ll meet again, sooner or later